Pengetahuan dan kearifan lokal
Pengetahuan
lokal merupakan tradisi maupun praktik-praktik yang berlangsung secara turun
temurun di suatu wilayah. Pengetahuan tersebut merupakan hasil belajar
masyarakat yang berkembang seiring dengan waktu, didasarkan pada pengamatan dan
pengalaman (ilmu titen) yang kemudian berkembang menjadi persepsi masyarakat
lokal atas suatu keadaan. Menurut Yuwono (2012) untuk mempelajari permasalahan
dapat dipergunakan pendekatan kawruh dan ngelmu 71yang saling melengkapi. Pengetahuan lokal tidak selalu harus dikaitkan
dengan predikat
tidak ilmiah (Anshoriy dan Sudarsono, 2008; Indiyanto, 2012).
Kearifan
lokal meliputi semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan
serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan
di dalam komunitas ekologis (Keraf, 2002). Semua bentuk kearifan lokal ini
dihayati, dipraktekkan, diajarkan dan diwariskan dari generasi ke generasi
sekaligus membentuk pola perilaku manusia terhadap sesama manusia, alam maupun
gaib. Mengacu pemahaman tersebut kearifan memiliki ciri milik komunitas,
pengetahuan ‘bagaimana’, bersifat holistik, mencakup aktivitas moral serta
bersifat spesifik lokasi (akomodasi keragamanbudaya).Sebagai contoh penggunaan
bahasa alam yang didasari oleh pengamatan dengan cermat menghasilkan ilmu
titen, menandai musim tonggeret/garengpung sebagai tengara peralihan musim dasar
penyusunan pranata mangsa. Hanya pribadi/masyarakat yang memiliki pengetahuan
dan kearifan luar biasa yang mampu membaca penanda alam sebagai pembawa pesan
dari alam. Kearifan lokal berharga untuk hidup bermasyarakat yang tidak lekang
oleh waktu (Suprihati, 2013). Menyikapi perubahan musim yang mendatangkan
mangsa paceklik dengan optimalisasi sumber daya lokal yang ada semisal melalui
laku ngrowot (Suprihati dkk, 2013).
Hibridisasi
antara sains dengan pengetahuan lokal pada suatu ekosistem menunjukkan bahwa
kedua entitas pengetahuan tersebut dapat saling mengisi dan melengkapi (Hidayat
dkk., 2010). Pengembangan teknologi berdasarkan kajian pengetahuan dan kearifan
lokal mencakup bidang yang cukup luas semisal inovasi ekologi konservasi pertanian
berbasis kopi (Mulyoutami dkk., 2004), pemberdayaan masyarakat (Saharuddin,
2009), ketahanan pangan berbasis pisang (Budiyanto, 2010), mitigasi risiko
bencana (Indiyanto, 2012). Hal ini menunjukkan bahwa pada ekosistem yang rapuh,
kearifan lokal merupakan sumber inovasi yang sangat penting dalam mewarnai
teknologi untuk menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan. 72Pengetahuan dan Kearifan Lokal di Daerah Lereng Gunung Berapi Dalam
pewayangan, ‘gunungan’ menduduki peran sentral sebagai penanda pembuka dan
mengakhiri pagelaran. Gunungan berhiaskan simbol flora dan fauna, kiasan kesatuan
ekosistem penunjang kehidupan. Rusaknya ekosistem menjadi penanda rusaknya kehidupan.
Bagi
masyarakat gunung, kata gunung selalu memiliki daya pesona (Suprihati, 2012b).
Secara fisik kegagahan gunung menimbulkan rasa aman, ‘berlari ke gunung’ sering
diungkapkan sebagai penanda gunung sebagai benteng perlindungan. Nyanyian Daud
yang menyeru “Allahku, gunung batuku” (Maz18:3) bermakna alegoris (kias) yang
berarti, Allah tempat perlindunganku. Gunung dipergunakan dalam kiasan tempat
berlindung, meski terkadang gunung juga menakutkan saat yang mbahureksa gunung
memuntahkan lahar dengan kedahsyatannya dan dalam jangka panjang muntahan lahar
itupun merupakan wujud dari penumpahan berkat batu pasir, batu gunung dan
kesuburan tanah pegunungan.Dalam keseharian
beberapa istilah juga mengait pada kosakata gunung,diantaranya
nyabuk gunung, njanur gunung serta sri gunung. Sosok gunung dari jauh tampak indah
setelah didekati by detail ada lembah, lurah, tonjolan, jurang yang bagi
kebanyakan orang jangankan indah malahan menyeramkan, ada aura bahaya. Istilah
srigunung biasanya digunakan sebagai penyandra perwajahan yang keindahannya
menonjol bila dilihat dari jauh. Sri gunung dalam realita keseharian dekat
dengan kesukaan mengagumi dan menikmati keindahan yang sebanding dengan
keberanian menghadapi potensi bahaya dengan menyikapinya secara bijak.Berbagai
bahaya diantaranya erosi, muntahan lava, serta dampak global perubahan iklim
terintegrasi di daerah lereng gunung berapi. Namun masyarakat di sekitar puncak
gunung Merapi (dusun Turgo, Purwobinangun, Sleman; dusun Cemer, Argomulyo,
Magelang; dusunPlalangan, Lencoh, Boyolali) tetap merasa ‘hidupnyaman bersama
ancaman’ (Humaidi dkk., 2012). Bagi masyarakat 73 sekitarnya, Merapi yang berasal dari kata ‘meru’ (gunung) dan api,
diyakini sebagai bagian dari kehidupan kulturalnya. Gunung dan manusia sebagai
suatu kesatuan, sehingga aktivitas gunung berapi diyakini tidak akan menegakan masyarakatnya.
Penguasa gunung akan mengirim utusan dan masyarakat penghuni gunung diberi
kemampuan membaca sasmita tanda-tanda alam berupa asap, migrasi fauna dari atas
ke bawah sebagai penanda peningkatan aktivitasnya. Aktivitas gunung berapi juga
menghidupkan rasa empati merasa senasib yang menjadi embrio kelahiran
organisasi komunitas semisal Paguyupan Sabuk Gunung (PASAG) Merapi. Integrasi
organisasi komunitas dalam kebijakan dan langkah penanggulangan bencana sangat
diperlukan untuk mengefektifan mitigasi dan langkah penyelamatan (Pramono,
2012). Manusia adalah makluk pembelajar. Mitos tenggelamnya Maselihe
dipergunakan oleh masyarakat Kendahe sebagai dasar adaptasi kultural penduduk.
Konsep keseimbangan alam yang diterjemahkan ke dalam sistem sosial yang
membatasi kerusakan alam di wilayah lereng Gunung Awu di wilayah Sangir Besar,
Sangihe (Widiyanto, 2012). Secara umum dari kajian ini menunjukkan bahwa
kesatuan ekosistem lereng gunung berapi menyuburkan pengetahuan dan kearifan
lokal sebagai wujud komunikasi manusia dengan alam dan dinamikanya.
Budidaya Pertanian Berbasis
Pengetahuan dan Kearifan Lokal di Daerah Lereng Gunung Berapi
Daerah
lereng gunung berapi menjadi sentra produksi hortikutura khususnya tanaman
sayuran dan tanaman hias yang bernilai ekonomi tinggi. Tanah subur yang secara
berkala mendapat tambahan material baru hasil erupsi, ada hembusan material
SO2, tekstur berdebu di lereng Merbabu dan berpasir di lereng Merapi serta
struktur tanah gembur hingga lepas menjadi media tumbuh yang ideal bagi tanaman.
Bagi
masyarakat agraris, bertani adalah bagian dari ibadah. Bertani merupakan seni
membangun relasi yaitu relasi manusia dengan Sang Pencipta, relasi dengan alam
dan relasi sesama makluk hidup antara manusia-tanaman-hewan sesama titah 74ngaurip.Pada saat wiji nyuwita siti/bantala (benih
menyatu dengan tanah) segera berinteraksi dengan tirta (H2O),bayu/maruta CO2 dan O2) sertasurya (sinar matahari) menjadikan benih hidup(Suprihati,2012a).bukankah
itu prinsip dasar imbibisi dan fotosintesis? Sebagai dasar perekat relasi
adalah harmoni atau keselarasan ‘untuk segala sesuatu ada waktunya’. Dasar
tersebut terwujud dalam sistem pranata mangsa (bahasa Jawapranåtåmångså,
berarti ‘ketentuan musim') diantaranya versi Kasunanan yang berlaku untuk
wilayah di antara Gunung Merapi dan Gunung Lawu.Salah satu praktik bercocok
tanam di lereng gunung adalah nyabuk gunung. Sabuk merupakanpengikat pinggang
agar pakaian yang dikenakan kencang dan tidak lepas, kadang penegas bentuk
badan, ataupun asesori pelengkap keindahan busana. Nyabuk gunung berarti
memasang sabuk pada gunung, agar pakaian (dalam hal ini tanah) tidak melorot.
Vandana Shiva dalam Keraf (2002) menuliskan bahwa ‘tanah bukan sekedar rahim
bagi reproduksi kehidupan biologis, melainkan juga reproduksi kehidupan budaya
dan spiritual’. Konsep ini
senada
dengan konsep ibu pertiwi. Istilah nyabuk gunung merupakan adopsi budaya lokal
di bidang lingkungan hidup. Merupakan salah satu tindakan konservasi tanah
yaitu bercocok tanam dengan cara memotong lereng mengikuti kontur (contour
cropping), searah dengan kontur atau garis ketinggian sehingga dari jauh nampak
melingkari gunung seperti sabuk. Dengan teknik budidaya tersebut kecepatan air
aliran permukaan tanah (run off) dapat dikurangi, laju erosi berkurang,
memperbesar kesempatan infiltrasi sehingga memperbesar sediaan air bumi dan
dihambatnya merosotnya lapisan permukaan tanah dari lereng bagian atas ke bawah.
Berbagai variasi dari nyabuk gunung diantaranya strip cropping, alley cropping
(budidaya lorong) yang mengkombinasikan antara pengembalian hijauan hasil
pangkasan tanaman pagar dengan contour cropping.
Sistem
berundak atau sengkedan merupakan sistem bercocok tanam yang diberlakukan di
lereng gunung. Pembuatan teras bangku atar teras tangga menyediakan bidang yang
relatif datar untuk bercocok tanam. Terras ini dibuat dengan jalan memotong
lereng dan meratakan tanah di bagian bawah sehingga 75membentuk deretan tangga. Dinding terras diperkuat dengan materi setempat semisal
rerumputan ataupun bebatuan.Pembuatan sengkedan ini dibarengi dengan pengolahan
tanah yang terbatas, pembuatan teras bangku menghasilkan bidang datar dengan
lebar terbatas tergantung kemiringan lereng. Pengolahan tanah dengan mekanisasi
penuh sulit diterapkan pada lahan berlereng ini sehingga alat olah tanah
cangkul/pacul sederhana menjadi andalan petani. Pengolahan tanah non intensif
ini sangat membantu konservasi tanah. Terkandung kearifan lokal dari pacul
berkenaan dengan papat kang ucul (keutamaan perilaku). Kemuliaan seseorang akan
sangat tergantung cara menggunakan mata (melihat kesulitan sesama), hidung
(mencium kebaikan), telinga (mendengar nasihat) dan mulutnya (berkata-kata dengan
adil).
Bagian utama
dari cangkul adalah doran, tandhing, bawak dan landhep,
terangkum
didalamnya hidup adalah pertandingan yang harus diisi dengan kerja keras,
kecerdasan dan mengucap syukur dalam segala hal.Integrasi tanaman semusim dan
tahunan padadaerah berlereng sangatlah penting. Mengacu contoh di Kabupaten
Temanggung, tembakau merupakan komoditas penting penopang ekonomi, areal
penanamannya semakin mengarah ke puncak Sindoro dan berpotensi memperbesar
erosi di daerah tersebut. Integrasi tembakau dan kopi yang juga merupakan
komoditas unggulan dirakit. Pola Tlahap adalah budidaya tanaman tembakau di
Desa Tlahap di lereng Gunung Sindoro dengan sistem terasering dan tumpangsari
bersama tanaman kopi arabika dan rumput untuk pakan ternak.
Membutuhkan
waktu yang cukup panjang untuk mensosialisasikan program ini, kesiapan rakitan
teknologi dengan pemilihan kopi arabika kate luas tajuk terbatas dan tidak
terlalu tinggi (Kartika 1, Kartika 2), negosiasi panjang dengan Asosiasi Petani
Tembakau sebelum pola Tlahap dapat diterima oleh masyarakat lereng
Gunung
Sindoro dan siap direplikasi oleh wilayah yang setipe. Hasil kajian menunjukkan
pola Tlahap, menuju Good Agriculture Practices pada budidaya tembakau di
Kabupaten Temanggung (Suprihati, 2010). Komponen utamanya adalah integrasi
tembakau –kopi, terasering, penguat teras rumput pakan.76Menurut formula Wischemeir dan Smith (1978 dalam Arsyad, 1989 besarnya erosi
tanah dirumuskan: A= K R LS CP. Simbol A adalah banyaknya tanah yang tererosi,
K adalah faktor erodibilitas tanah, R adalah erosivitas hujan, L adalah panjang
lereng, S merupakan kemiringan lereng, C adalah faktor pengelolaan
tanaman dan
P adalah faktor-faktor tindakan khusus konserasi tanah. Praktik nyabuk gunung,
sengkedan merupakan bentuk pengelolaan lahan yang menghasilkan faktor L S dan P
yang nilainya lebih kecil sehingga menekan erosi tanah. Implementasi pola
TLAHAP merupakan upaya menekan erosi melalui pengelolaan faktor CP.
Kegiatan
bertani bukan hanya masalah teknis untuk peningkatan hasilpanen (ekonomis)
namun juga mencakup kegiatan sosial budaya. Pranata sosial aneka ritual sangat
lekat dengan dunia pertanian. Salah satu ritual yang terkenal adalah acara
ruwat bumi. Pada hakekatnya ruwat bumi adalah pengucapan syukur atas berkat
Tuhan berupa hasil panen yang melimpah serta permohonan dijauhkan dari bencana.
Berbagai kegiatan selama ruwat bumi diantaranya sesaji hasil panen (persembahan
dan pelayanan kepada sesama), pengembalian sisa tanaman ke tanah (dasar dari
neraca hara) dan hiburan pagelaran wayang. Lakon yang digelarpunaneka
disesuaikan dengan kondisi setempat semisal lakon Makukuhan yang dikembangkan
menjadi dasar Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang mencakup PHT. Merespon
erupsi Merapi, acara ruwat bumi tahun 2011 di Joglo Lencoh, Kecamatan Selo,Boyolali
menggelar lakon ‘Ismaya Maneges’. Tokoh Semar yang merupakan pewujudan Bathara
Ismaya yang merakyat mendatangi Kahyangan, maneges menanyakan sikap para dewa
atas kondisi rakyat yang menderita akibat bencana (Yulianto, 2011). Implementasi
Budidaya Pertanian Berbasis Pengetahuan dan Kearifan Lokal di Daerah Lereng
Gunung BerapiIdentifikasi pengetahuan dan kearifan lokal yang berakar kuat di
daerah setempat merupakan modal utama sistem budidaya pertanian berkelanjutan.
Pemilahanbeberapa nilai budaya yang masih tetap relevan diberlakukan dan
beberapa perlu sentuhan kekinian dalam penerapannya. Pengkayaan nilai dari
daerah yang setipe 77dibarengi adaptasi kultural
disesuaikan dengan potensi lokal meningkatkan nilai gunanya. Hal ini senada
dengan warisan ilmu dari Ki Hadjar Dewantara ‘Tiga N’ yaitu: niteni, nirokake
dan nambahi (mencermati, menirukan dan menambah), sistem peringatan dini dan
antisipasi merupakan produk dari pendekatan ini.Gerakan budidaya pertanian
berbasis pengetahuan dan kearifan lokal pendukung keberlanjutan tidak bisa
digulirkan begitu saja, diperlukan lokomotif penarik dan
pendorongnya.
Perlu pemimpin kharismatik masyarakat lokal yang didukung oleh birokrasi
struktural. Penciptaan peran model yang mampu menjembatani dan fasih berbicara
dengan dua bahasa yaitu bahasa sains dan bahasa pengetahuan kearifan lokal
sebagai agenpembaharu menjadi sangat penting (Indiyanto, 2012). Melalui sosok
model panutan inilah pencitraan dibangun. Sebagai rangkuman, model Budidaya Pertanian
Berbasis Pengetahuan dan Kearifan Lokal di Daerah Lereng.
(sumber: www.google.com)
(sumber: www.google.com)
blognya keren nih kereatip
BalasHapusisinya keren tapi penulisannya kurang rapi .. di rapiin lagi yaa
BalasHapusapalagi itu paragrafnya :)
Bagus,hampir sempurna
BalasHapusmenurut saya, isi artikel ini bagus dan lengkap
BalasHapusTerimakasih :)
assalamu'alaikum..
BalasHapuswow artikel yang di posting cukup padat dan baik. terimakasih atas informasinya <3
isi postingan Anda bagus :) namun penulisan yang kurang rapi membuat pembaca menjadi kurang nyaman saat membaca.
BalasHapussemangaaaatt!!! ^^9
thanks atas kritik dan sarannya... ^_^
BalasHapus