Minggu, 26 Oktober 2014

MEMBANGUN DIALOG BATIN YANG POSITIF




Apakah dialog batin kita menghalangi pemberdayaan diri kita? Berapa kali kita takut untuk memperluas batas-batas atau untuk mengambil inisiatifhanya karena dialog batin kita yang negative,  yang terus menerus menekankan kekurangan-kekurangan dan segala bahaya kesalahan yang mungki kita timbulkan? Jika kita tidak menemukan buktinkuat bahwa kita benar-banar tidak dapat melakukan apa yang ingin kita lakukan, sangat mungkin bahwa penghambat kemajuan kita adalah dialog batin kita sendiri negative.

Lalu bagaimana kita dapat mengubah dialog batin yang negative menjadi positif? Dengan memusatkan perhatian pada kebaikan-kebaikan dan keberuntungan-keberuntungan yng mungkindihasilkan oleh apa yang mau kita lakukan! Kebaikan dan keberuntungan itu harus mencakup bukan hanya kebaikan dan keberuntungan dari tindakan itu sendiri (seperti lebih baiknya pemanfaatan sumber  daya pemikiran atau tanggapan dan kritik yang lebih sigap), tetapi juga bagaimana perasaan yang akan tumbuh pada diri kita. Isilah format seperti pada kolom di bawah ini:


Tindakan
ketakutan
kemungkinan
pencegahan
penanganan









Pada kolom pertama, uraikan secara singkat tindakan yang ingin kita lakukan. Pada kolom kedua, tulislah segala hal yang kita takutkan akan terjadi jika kita melakukan tindakan yang kita rencanakan itu. (tulislah kemungkinan buruk yang kita takutkan). Pada kolom ketiga, masukkan penilaian subjektif kita tentang kemungkinan terjadinya setiap ketakukan itu,tulis dalam presentase. Misalnya, jika kita berpikir bahwa kemungkinan kita akan mendapat keburukan kira-kira keburukan satu dalam sepuluh, tulislah 10%.

Sekarang perhatikanlah daftar yang telahkita buat. Berapa banyak dari ketakutan-ketakutan itu yang sungguh-sungguh mungkin menjadi masalah  dalam kenyataannya? Kiranya jauh lebih sedikit dari pada yang yang dikatakan  oleh dialog batin kita. Marilah kita hadapi ketakutan-ketakutan yang nyata itu. Bagaimana kita dapat mencegahnya agar tidak terjadi? Gunakanlah kolom ke-empat untuk merencanakan tindakan preventif untuk mencegah ketakutan-ketakutan  kita yang paling buruk dan paling menghantui. Dengan menimbang-nimbang seperti ini, kebanyakan masalah yng akan kita temukan ternyata dapat dicegah. Tetapi,seandainya hal yang paling buruk tetap terjadi, bagaimana kita akan menghadapinya? Gunakanlah kolom yang terakhir untuk merencanakan tanggapan kita. Dapatkah kita mengurangi dampak buruknya? Hamper pasti! Mungkinkah kita lebih jauh lagi mengubahnya menjadi keberuntungan? Amat mungkin!

Sekarang kita lihat hasil-hasil yang positif. Apakah manfaat-manfaat itu masih berharga? Nah, apa lagi yang kita tunggu? Kita telah merencanakan untuk menghindari malapetakadan, bahkan jika hal yang paling buruk sungguh terjadi, kita telah siap dan akan menanganinya. Sekurang-kurangnya, kita akan berusaha. Dan pada akhirnya, ingatlah bahwa jika kita mau menanggapi kritik, kita perlu memberikan contoh dengan ”menghayati apa yang kita katakana,” dan itu berarti mulailah sekarang! Oleh sebab itu, pada kertas terpisah buatlah daftarhal “Yang akan kita lakukan esok hari”. Langkah-langkah apa yang dapat kita ambil (besok pagi!) untuk mencapai tujuan-tujuan kita? Ingatlah, satu-satunya orang yang memasang rem paa kebebasan kita untuk bertindak adalah diri kita sendiri. Singkirkan rem itu!. Buatlah daftar (dengan menyebutkan prioritas-prioritasnya) dan bertekadlah untuk segra mengambil langkah pertama demi pemberayaan diri kita esok hari. 

Yang akan kita lakukan esok hari
1
2
3

Jika kita rasa perlu memberitahu orang  apa yang sedang kita rencanakan atau kerjakan (dalam hal0hal tertentu memang perlu), kirimlah memo kepada setiap yang akan kita beri tahu. Beri tahu mereka tentang apa yang akan kita lakukan. Pemberitahuan itu tidakperlu berupa uraian yang panjang lebar tentang apa yang telah kita putuskan, cukup uraian pendek tentangnya. Simpanlah salinan memo itu.pada suatu saat mungkin kita perlukan untuk menunjukkan bahwa kita tlah memberitahu ornag lain tentang apa yang kita lakukan. Namun, hati-hatilah juga agar tidak menyampaikan memo secara sembarngan. Jangan mengirim kepada orang jika hanya mengakibatkan bingung, jangan-jangan ia malah akanberusaha menghalangi kita melakukanapa yang sudah kita rencanakan (tentu saja sejauh kita yakin bahwa apa yang kita lakukan memang baik dan sejalan dengan tujuan kita). Jika kita mensinyalir bahwa seseorang mungkin akan menentang,  perlu mengambil langkah pendekatan yang sesuai untuk meyakinkan agar member dukungan atau izin yang kita butuhkan.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar